CSR dan Comdev di Era ESG: Menuju Profesi Strategis Masa Depan (Bagian 2)

Dalam konteks keberlanjutan, penting untuk kita dapat memahami bahwa tidak semua program CSR atau Community Development (Comdev) dirancang untuk langsung menangani dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan misalnya mengurangi emisi yang dilepaskan oleh perusahaan. Banyak inisiatif comdev justru ditujukan untuk berkontribusi terhadap pencapaian target ESG (Environmental, Social, and Governance) secara lebih luas, terutama pada aspek sosial dan lingkungan. Beberapa program bertujuan untuk memperluas akses energi bersih, mendorong pengelolaan limbah terpadu, serta mendukung konservasi lingkungan yang berbasis komunitas. Misalnya, program elektrifikasi energi terbarukan di daerah terpencil mungkin tidak dapat menurunkan emisi perusahaan secara langsung, namun tetap dapat masuk ke dalam laporan keberlanjutan perusahaan karena menciptakan dampak sosial dan mendukung agenda nasional transisi energi. Dengan kata lain, posisi comdev kini bergeser dari sekadar program sosial menuju alat strategis perusahaan dalam memenuhi indikator ESG yang terukur dan dilaporkan secara formal.

Salah satu tren utama dalam ESG saat ini adalah dekarbonisasi dan transisi menuju energi terbarukan. Dekarbonisasi sendiri merupakan upaya mengurangi emisi karbon dalam seluruh proses operasional dan rantai pasok perusahaan, sementara energi terbarukan digunakan untuk menggantikan sumber energi fosil yang menjadi penyumbang utama emisi. Dalam program comdev, tren ini menciptakan peluang baru untuk mendesain inisiatif program sosial yang juga relevan dengan target dekarbonisasi atau keberlanjutan lingkungan. Beberapa perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia juga telah banyak memanfaatkan pendekatan ini dalam merancang program comdev yang strategis dan terukur secara ESG. Contoh perusahaan yang telah menerapkan praktik ini di antaranya adalah perusahaan BUMN.

Pertamina, sebagai BUMN energi terbesar, memiliki target keberlanjutan dalam pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 30% pada 2030. Kontribusinya terhadap aspek sosial ESG yang bertemakan energi juga diwujudkan melalui program comdev pembangunan energi alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di daerah-daerah terpencil yang belum dapat terjangkau jaringan listrik oleh PLN. Program ini dilaksanakan di wilayah 3T seperti Maluku dan NTT, memberikan akses energi bersih kepada masyarakat yang sebelumnya sangat bergantung pada kayu bakar atau genset berbahan bakar solar. Walaupun kegiatan ini tidak berdampak langsung pada pengurangan emisi di operasional perusahaan Pertamina, program ini dapat mendukung tujuan sosial dalam kerangka ESG serta mendukung SDG’s 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) dan SDG’s 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Selain memperluas akses energi, program ini juga melibatkan masyarakat lokal di dalam pelatihan teknis dan pemeliharaan alat, serta menciptakan lapangan kerja lokal yang berkelanjutan.

Contoh lain implementasi ESG dari perusahaan Danone-AQUA yang telah menjadi pelopor praktik ekonomi sirkular di Indonesia. Perusahaan ini memiliki target ESG global untuk mengumpulkan lebih banyak plastik daripada yang mereka gunakan pada tahun 2025. Untuk mencapainya, mereka mengembangkan ribuan bank sampah komunitas di berbagai wilayah yang berfungsi sebagai sistem pengumpulan dan daur ulang botol plastik pasca konsumsi. Program ini tidak hanya berdampak pada pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik, tetapi juga membantu Danone dalam upaya mengurangi jejak lingkungan dari produknya. Limbah plastik yang berhasil dikumpulkan dan didaur ulang oleh komunitas menjadi bagian dari keberhasilan di pelaporan keberlanjutan perusahaan. Dalam hal ini, comdev tidak hanya mendukung pilar sosial dalam ESG, tetapi juga langsung terhubung dengan pilar lingkungan karena menurunkan volume limbah yang berakhir di TPA. Dengan melibatkan komunitas, Danone tidak hanya menjalankan tanggung jawab sosial, tetapi juga menciptakan ekosistem daur ulang yang memberikan nilai ekonomi dan lingkungan secara simultan.

Sementara itu, contoh lain pada perusahaan tambang seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), menggunakan pendekatan berbeda melalui konservasi lahan pasca tambang. Perusahaan ini menargetkan Net Zero Emissions pada 2060 dan menjadikan program rehabilitasi lingkungan sebagai salah satu strategi utama. Di beberapa lokasi bekas tambang, PTBA menjalankan program penanaman vegetasi asli seperti mangrove dan pohon endemik yang berperan sebagai penyerap karbon alami. Program ini juga melibatkan masyarakat setempat dalam kegiatan konservasi, mulai dari kegiatan pembibitan hingga perawatan vegetasi. Selain memberikan alternatif ekonomi bagi warga sekitar tambang, program ini memberikan kontribusi langsung terhadap target dekarbonisasi perusahaan melalui skema carbon offset berbasis karbon biru. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, tidak ditemukan informasi lebih lanjut bahwa PTBA telah memformalkan mekanisme carbon offset ini melalui pasar karbon yang diverifikasi oleh pihak ketiga. Meskipun program rehabilitasi lahan dan penanaman vegetasi asli memiliki potensi signifikan dalam penyerapan karbon, hingga saat ini, kontribusi tersebut tampaknya masih dihitung sebagai potensi serapan karbon dan belum dikonversi menjadi kredit karbon yang dapat diperdagangkan atau diakui dalam skema offset resmi. Dalam laporan keberlanjutannya, PTBA juga mencantumkan jumlah lahan yang berhasil dilakukan rehabilitasi dan potensi serapan karbon sebagai bagian dari pencapaian ESG. Ini menunjukkan bahwa comdev tidak hanya bersifat filantropi, tetapi juga menjadi bagian dari perhitungan dampak lingkungan secara kuantitatif.

Ketiga contoh di atas menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar di Indonesia sudah mulai untuk merancang program comdev secara lebih strategis, terukur, dan selaras dengan agenda keberlanjutan perusahaan. Di sisi sosial, comdev juga dapat memperkuat relasi antara perusahaan dan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan lokal, dan membangun kepercayaan sosial. Di sisi lingkungan, beberapa program bahkan mendukung target-target ESG perusahaan yang sangat spesifik, seperti pengurangan limbah, serapan karbon, atau akses terhadap energi bersih. Dengan menggunakan pendekatan ini, perusahaan dapat dengan mudah menguantifikasi dampak program comdev mereka, serta menjadikannya bagian dari narasi keberlanjutan yang kuat dan kredibel.

Perkembangan ini menciptakan peluang yang luas bagi tenaga kerja di bidang CSR dan comdev. Permintaan terhadap profesional yang mampu merancang dan mengelola program comdev berbasis ESG semakin meningkat, baik di sektor korporasi, lembaga sosial, hingga instansi pemerintah. Keterampilan seperti pemahaman terhadap indikator-indikator dan faktor ESG, kemampuan mengintegrasikan program sosial dengan strategi keberlanjutan perusahaan, hingga keahlian dalam mengukur dampak sosial dan lingkungan kini menjadi kompetensi yang sangat dicari. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang berlomba-lomba untuk membuktikan komitmen keberlanjutan mereka secara kuantitatif, keberadaan profesional comdev saat ini akan menjadi aset penting di dalam mendukung transformasi bisnis menuju keberlanjutan.

Dengan regulasi ESG yang semakin ketat dan meningkatnya tekanan dari investor serta masyarakat, posisi profesional comdev juga turut berubah. Mereka tidak lagi hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi dituntut untuk memahami indikator ESG, menghubungkan program komunitas dengan target keberlanjutan perusahaan, dan menyusun laporan dampak berbasis data. Laporan Deloitte Sustainability & ESG Trends (2023) menunjukkan bahwa 62% perusahaan di Asia Tenggara kini mulai mengintegrasikan program sosial dan lingkungan yang berbasis masyarakat ke dalam strategi utama bisnis mereka. Ini menjadi sinyal bahwa comdev kini bukan hanya akan tetap relevan, tetapi juga berkembang menjadi bagian penting dari transformasi perusahaan menuju masa depan yang berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang tepat, comdev akan terus menjadi jembatan yang strategis antara bisnis dan masyarakat. Profesional di bidang ini perlu mengembangkan kemampuan lintas sektor dalam memahami teknologi energi hijau, data keberlanjutan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas. Di tengah upaya dalam transisi menuju target net zero emissions dan ekonomi hijau, peran comdev akan semakin vital sebagai instrumen kinerja perusahaan untuk menciptakan dampak sosial yang terukur, mengelola risiko lingkungan, dan memperkuat posisi perusahaan dalam ekosistem keberlanjutan global.

Opini Oleh: Agnes Dwi Jayani

Share:

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp