kegiatan Stakeholder egangement

Stakeholder Engagement, Aspek Penting dalam CSR (Bagian 1)

Kebutuhan untuk dapat melakukan program CSR yang bukan saja sekedar menjadi program didukung oleh stakeholder engagement di sekitar wilayah operasinya.  

Hasil dari pemetaan sosial yang dilakukan dapat mengenali siapa saja para pemangku kepentingan di masing-masing fungsi dan rantai nilai, untuk kemudian merumuskan strategi-strategi engagement yang tepat dan dapat memenuhi regulasi pemerintah, misalnya terkait pemenuhan PROPER beyond compliance dan dapat mempertahankan social license to operate yang dimiliki. 

Mari mengenal stakeholder engagement secara lebih dalam, dan apa saja yang harus dipertimbangkan. 

Apa itu Stakeholder? 

Stakeholder didefinisikan sebagai “setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi”. Menurut ISO 26000, stakeholder didefinisikan sebagai para individu atau kelompok yang terdampak, atau memiliki kemungkinan untuk mendampaki tindakan dari perusahaan yang bersangkutan.  

Sejalan dengan hal tersebut, Sachs and Ruhli (2011) dalam pendekatan new stakeholder paradigm menekankan bahwa dalam berelasi dengan stakeholder, setiap kepentingan dan tujuan harus dipahami untuk menjaga keseimbangan hubungan antar satu sama lainnya. Relasi dengan para stakeholder merupakan salah satu elemen terpenting dalam proses pembentukan value atau nilai dari perusahaan.  

Oleh karena itu, kepentingan-kepentingan dari stakeholder menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan sebagai salah satu tanggung jawab sosial dari perusahaan. Hal ini seperti yang tertuang pada ISO 26000 klausa 5, dinyatakan bahwa identifikasi dan mengikat hubungan dengan para stakeholder adalah bagian dari praktik tanggung jawab sosial perusahaan. 

Tipologi Stakeholder 

Ronald K. Mitchell, Bradley R. Agle dan Donna J. Wood (1997:854) mengusulkan bahwa kelas pemangku kepentingan (stakeholder) dapat diidentifikasi dengan kepemilikan atribut dari satu, dua, atau ketiga atribut berikut: (1) kekuatan (Power) pemangku kepentingan untuk mempengaruhi perusahaan, (2) legitimasi (legitimacy), hubungan pemangku kepentingan dengan perusahaan, dan (3) urgensi (urgency)

Tipologi Stakeholder dalam program CSRGambar di atas merupakan gambar yang dapat membantu dalam mengidentifikasi kelas dari stakeholder berdasarkan atribut yang dimilikinya. Stakeholder  diidentifikasikan berdasarkan kepemilikan satu atribut saja—power, legitimacy, urgency.  

Latent stakeholder adalah mereka yang hanya memiliki satu dari tiga atribut, dan termasuk dormant, discretionary, dan demanding stakeholders.  

  • Dormant stakeholder memiliki kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka pada perusahaan, tetapi dengan tidak memiliki hubungan yang sah atau klaim yang mendesak, kekuatan mereka tetap tidak digunakan.  
  • Discretionary Stakeholder memiliki atribut legitimasi, tetapi tidak punya power untuk mempengaruhi perusahaan dan tidak punya klaim yang penting sehingga perusahaan bisa memilih untuk tidak melakukan engagement terhadapnya.  
  • Demanding stakeholder memiliki atribut urgensi, yakni dengan claim yang penting tetapi tidak punya power maupun legitimasi.  

Expectant Stakeholder, yakni Stakeholder yang memiliki dua atribut dan dicirikan memiliki ekspektasi terhadap perusahaan, yang diantaranya adalah dominant, dependent, dan dangerous stakeholders.  

  • Dominant Stakeholder memiliki atribut power dan legitimasi, membuat pengaruh mereka diakui ada terhadap perusahaan. Mereka dapat bertindak dengan atributnya tersebut, sehingga perusahaan harus memperhatikan mereka.  
  • Dependent stakeholder dicirikan sebagai pemangku kepentingan yang bergantung satu sama lain dengan perusahaan, dimana hubungannya resiprokal dan dasar tindakannya berdasar kepada arahan manajemen internal.  
  • Dangerous Stakeholder adalah pemangku kepentingan dengan atribut power dan urgensi yang dapat membuat perusahaan berada dalam “bahaya”. Dalam menggunakan power-nya, pemangku kepentingan pada kelas ini menggunakan paksaan pada praktiknya.  
  • Definitive Stakeholder, yakni stakeholder dengan tiga atribut dan menjadi prioritas perusahaan untuk mematuhi setiap mandat yang diberikannya.  

Dengan mengidentifikasi kelas-kelas dari stakeholder akan membantu perusahaan dalam mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menjalin hubungan dengan para stakeholder.  

Manajemen Stakeholders 

Penting untuk menjaga hubungan dengan para stakeholder melalui stakeholder engagement, yang dalam ISO 26000 diartikan sebagai aktivitas yang dijalankan untuk membuat peluang dialog antara sebuah organisasi dengan para stakeholder-nya dengan tujuan untuk menjadi landasan pilihan tindakan dari organisasi tersebut. 

Pengelolaan stakeholder yang baik membutuhkan kejelasan dalam komunikasi dan cakupan keterkaitan antara perusahaan dengan pemangku kepentingan (stakeholder) yang bekerja sama dengannya. Untuk memulai pengelolaan stakeholder, terdapat setidaknya empat tahapan penting dalam sebuah siklus, mengacu kepada AA 1000 SES: 

  1. Stakeholder engagement plan atau perencanaan dalam pengelolaan stakeholder. Pada tahapan ini, stakeholder mapping menjadi salah satu bagian sebagai cara untuk melihat stakeholder mana saja yang mendukung berjalannya perusahaan.  
  2. Tahap berikutnya adalah prepare, pada tahapan ini dapat dilakukan pemilihan penanggung jawab hubungan dengan para stakeholder, serta pengalokasian sumber daya untuk kerjasama yang dilakukan.  
  3. Tahap selanjutnya adalah implementasi, pada tahap ini setiap kegiatan engagement dilakukan dan didokumentasikan.  
  4. Terakhir adalah tahap review dan improve, pada tahap ini perusahaan didorong untuk melakukan pengukuran hasil engagement, yang berikutnya dari hasil tersebut dapat dilakukan perbaikan atau peningkatan dari engagement yang dilakukan. 

Konsultasikan Stakeholder Engagement  

Kami di Spectrum CSR Solution siap membantu perusahaan Anda dalam mengelola stakeholder dengan efektif. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan solusi yang terukur, kami memastikan program CSR Anda mencapai dampak yang signifikan. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi lebih lanjut! 

 

Share:

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp